Ceramah Ustadz Cepot

Cepot…ooh…cepot…!
Apr
5
Kejadiannya baru kemarin sich tapi berawal dari kejadian sekitar sebulanan yang lalu…

Nyokap gue kan punya tanah di daerah Tangerang (persisnya dimana gue gak tau). Mang sich ada niatan buat menjual tapi karena pada dasarnya nyokap juga gak lagi BU (butuh uang) jadi ya prosesnya santai aja. Akhirnya sekitar sebulan yang lalu, nyokap terima surat dari Pondok Pesantren Ibadurrahman yang berlokasi di daerah Cipondoh Tangerang yang menyatakan berminat untuk membeli tanah nyokap tersebut. Nyokap mencoba telpon ke nomor telpon yang ada di surat itu, yang angkat cewek, ngakunya istri dari Pak Haji pemilik pondok pesantren (ponpes). Karena Pak Haji-nya gak ada, jadi nyokap cuman tinggalin pesan aja supaya Pak Haji menghubungi balik. Ditunggu seminggu, 2 minggu, gak ada telpon balik, sampai akhirnya nyokap berinisiatif lagi untuk telpon kembali. Kebetulan Pak Haji ada, dan disepakati nyokap bakal berkunjung ke ponpes tersebut untuk “deal” langsung dengan Pak Haji.

Sebelum nyokap dan suami gue berkunjung ke ponpes itu, gue mencoba tanya sama mbah google soal Pondok Pesantren Ibadurrahman. Ternyata nich ponpes cukup besar, santrinya aja ribuan, dan dapetlah gue nama pemilik/pemimpinnya, yaitu Kyai Haji Ahmad Ikhsan atau lebih dikenal dengan nama Kyai Cepot. Pada kunjungan pertama, bertemulah nyokap dan suami gue dengan Kyai Cepot. Ternyata Kyai Cepot belum terlalu tua, mungkin usianya belum nyampe 40 tahun, istrinya malah jauh lebih muda lagi (hehehe…gak penting yak). Negosiasi berlangsung cukup cepat dan akhirnya harga pun disepakati.

Ternyata…ucapan seorang kyai, biarpun awalnya dah sepakat, bisa juga gak konsisten. Beberapa kali Kyai Cepot berusaha menghubungi nyokap gue (by phone) untuk “menggoyang” harga yang sudah disepakati sebelumnya. Mungkin karena kesel, nyokap gak meladeni dan menyerahkan ke suami gue buat ngomong sama Kyai Cepot. Akhirnya harga pun gak bergeming dan tetap sesuai dengan kesepakatan awal.

Setelah janjian dengan Kyai Cepot, disepakati jual beli akan dilakukan hari Rabu kemarin, dan nyokap disuruh kembali mengunjungi ponpes. Tau kan beberapa hari terakhir hujan deras mengguyur Jakarta dan sekitarnya, dan hasilnya banjir lah dimana-mana. Jadilah suami gue menerjang banjir untuk menemani nyokap gue menunju ponpes tersebut. Berangkat dari rumah sekitar jam 10-an dan perjalanan sekitar 1,5 – 2 jam. Sampai di ponpes, dipikirnya bisa langsung jalan ke notaris, ternyata Kyai Cepot masih dalam keadaan kucel, kayaknya baru bangun dan belum mandi tuh, dan masih sibuk mengurus berbagai hal lain. Jadilah nyokap dan suami gue dianggurin sekitar 2-3 jam!!! Kasihannya lagi, nyokap gue dalam kondisi yang kurang sehat, batuk2 terus selama menunggu Kyai Cepot. Akhirnya mereka jalan ke notaris, yang awalnya nyokap dan suami gue pikir pastilah Kyai Cepot dah bikin janji sama notarisnya. Ternyata, Kyai Cepot gak pernah bikin janji apapun sama notaris, dan alhasil notarisnya pun gak ada di kantor (katanya malah lagi di Jakarta). Yang nemuin cuman resepsionis dan menawarkan tuh sertifikat asli mau ditinggal aja atau gimana… ya elah… gak segoblok gitu kali… Jumat libur, Sabtu Minggu libur, mau nginep berapa lama tuh sertifikat? Akhirnya diputuskan, nyokap dan suami gue pulang… TANPA HASIL apapun! Jadi segini doank hasil menerjang banjir dan pengorbanan suami gue ninggalin kerjaan seharian!

Tensi darah gue tambah tinggi setelah tadi pagi suami cerita kalo Kyai Cepot nyuruh nyokap gue buka rekening di BRI untuk keperluan transaksi jual beli ini, alasannya karena Kyai Cepot mau pake rekening BRI. Whhoooooiiii… nyokap gue gak segitu BU-nya sampe kudu ngemis sama Kyai Cepot dan bisa diatur-atur seenak udelnya si Cepot! Hari geeeneee… ada RTGS ngkali..! Atau jangan2 Kyai Cepot gak rela bayar 20-25 ribu buat ongkos RTGS dari BRI ke Mandiri? Gue bayarin deh!!!

Sebagai umat muslim, gue maluuuu buanget mendengar kejadian yang dialami nyokap dan suami gue. Seorang kyai yang katanya cukup terkenal dan sering kasi ceramah/dakwah kepada umat muslim, ternyata kelakuannya…???
Kyai Cepot pastilah hafal surah Al Ashr tapi mungkin beliau belum men-tadabbur-i nya. Demi masa (waktu)…. Begitu pentingnya “waktu”… tapi seorang kyai sekaliber Kyai Cepot ternyata tidak bisa menghargai waktu orang lain!
Kyai Cepot juga pasti hafal hadist yang menyuruh umat muslim untuk memuliakan tamunya. Banyak kisah Rasulullah memuliakan tamunya yang sering kita baca/dengar. Seorang kyai seharusnya meneladani sifat dan perilaku Rasul. Tapi entahlah siapa yang diteladani seorang Kyai Cepot sehingga melalaikan tamunya, seorang nenek tua berusia hampir 70 tahun yang kondisi kesehatannya pun sedang tidak baik.
Sebagai umat muslim, rasanya kita diajarin untuk selalu memudahkan segala urusan. Tapi entahlah, sekali lagi siapa sich yang diteladani Kyai Cepot sampe urusan yang gampang pun lebih baik dipersulit. Lebih mudah mana nyuruh nyokap gue buka rekening baru di BRI hanya demi 1 transaksi atau pake aja rekening yang dimiliki masing2 dan memanfaatkan teknologi RTGS

Kalau kyai-nya aja seperti ini perilakunya, gimana ribuan santrinya??? Gimana perilaku umat Islam yang didakwahi oleh kyai macam ini? Rasanya umat Islam harus introspeksi, kenapa nasibnya terpuruk… Bagaimana mau menguasai ekonomi kalo manajemen waktu aja kacau? Bisa bubar jalan semua calon client karena kita gak bisa on-time! Bisa kabur semua calon client kalo segala urusan bukannya dipermudah malah dipersulit.

Ya Allah… jauhkanlah aku dari segala perilaku yang tidak menghargai waktu, tidak menghargai orang lain, dan tidak mempermudah segala urusan… Amin

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ceramah Asep Sunandar

Ceramah KH JUJUN JUNAEDI

Ceramah Ustad Maulana